Kayaknya *nyeleneh *ya judul tulisannya ?. Tapi tenang ko, saya tidak bermaksud mendiskreditkan profesi mulia pengayuh becak. *Kenapa saya sebut mulia ? *karena kemuliaan profesi tidak diukur dari tingginya jabatan dan pangkat, tidak juga dari nilai nominal yang dihasilkan. Melainkan saya lebih percaya cukup diukur dengan cara halal atau tidaknya profesi tersebut, serta pemanfaatan hasil usahanya. Lalu siapa sih Harry Van Yogya ?

Bagi sobat-sobat “penghuni tetap” kompek dunia maya blok facebook, jalan *ngeblog *gang twitter, tentunya nama Harry Van Yogya tidak lagi asing, apalgi yang berdomisili di Yogyakarta. Saya juga tidak begitu tahu tentang beliau, bertemu belum pernah, bertegur sapa tidak pernah, *say hello *apalagi !. Tapi kalau sobat mampir ke beranda salah satu blog-nya Mas Harry Van Yogya di harryjgj.multiply.com, maka sobat akan menemukan baris paragraf yang isinya kurang lebih sebagai berikut ;

Saya seorang single parent dengan 3 anak, Stefanus Lucky Ardian (1996), Nicolas Kevin Kristianto (1998) dan Veronika Natalia Agnes Destriana (2005). Aktivitas keseharian sebagai tukang becak yang selalu berusaha untuk bisa survive dalam kehidupan yang semakin sulit dan keras.

*Did you know ? *Apa ?. Dibalik kesahajaan dengan berprofesi sebagai tukang becak, ternyata dia juga seorang *blogger *dan rajin banget menulis. Jujur sih, saya ngerasa kesindir banget sama semangat Mas Harry, istilahnya *“Tukang becak saja yang terus bergelut dengan keringat bisa rajin menulis dan berbagi ilmu di beberapa blog yang dikelolanya, lha kamu ??? *” ***Plakkk !!! ***(tamparan halus mencium hati gwe).

Tidak hanya itu, Mas Harry juga saat ini sudah menulis sebuah buku yang berjudul **“The Betjak Way” **yang di terbitkan oleh Tiga Serangkai. Isinya saya juga belum tau pasti, tapi gambaran singkatnya Wali Kota Yogyakarta saja sampai ngasih sambutan *lho *di bukunya. Hemhhh…. yang jelas saya harus bergegas ke Gramedia atau Gunung Agung (promosi toko apa buku neh……??? 🙂 ). Haduhhhh…. malu lagi aja *gwe *sama semangat dan kreatifitas Mas Harry (nutupin muka). Kalau sobat mampir ke http://www.kompasiana.com/harry.van.yogya, *beuuuuuuhhhh…. *dari tulisan-tulisannya benar-benar keliatan tuh *survive-*nya Mas Harry dalam memaknai hidup.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari semangat beliau, dimana **gengsi **sudah bukan lagi zamannya dan jangan pernah memberikan tempat untuk istilah tersebut, yang tidak hanya menghambat tapi juga membuat kita semakin terjatuh, karena bagaimanapun life must go on – strugle must go up (bener gak’ tuh istilahnya ???). Nikmatilah hidup dengan segala asam, manis, pahit, asin dan pedasnya, karena dibalik itu semua ada sebuah rasa yang luar biasa nikmatnya.

Untuk berbicara kebutuhan hidup kita tidak bisa lagi berpegang pada kata malu yang tidak pada tempatnya, dan untuk berbicara kreatifitas dan semangat kita tidak bisa lagi berpegang pada kata malas dan kesibukan yang seolah-seolah. Selama kita mau, percaya diri, dan berjuang Insya Allah selalu ada jalan.

Dengan sikap dan kretaifitasnya, Mas Harry juga telah mengajarkan bahwa kita tidak bisa hidup dengan cara orang lain, kita harus hidup dengan cara kita sendiri yang tidak merugikan orang lain, karena pada waktunya Tuhan juga akan memberikan hadiah atas setiap perjuangan umatnya, tidak akan ada yang sia-sia terkecuali kita yang menyia-nyiakannya.