Terdengar dari jauh sayup-sayup kumandang Adzan, kafillah dan imam menyambut penuh senyuman. Masanya telah tiba dipelupuk mata, gerbong nan suci terus mendekati ruang hati. Harap dan cemas bercengkrama di dada… Semoga kita bisa menaikinya diatas kesucian lahir dan bathin.

Ibu… maafkan aku anakmu, anak yang didalamnya mengalir deras darah kegigihan dan kesabaranmu

Darah yang didalamnya tak pernah kau biarkan kering walau harus berbagi isi piring

Ibu, maafkan aku yang untuk kesekian kalinya tidak bisa tersenyum bersama menyambut bulan mulia

Maafkan aku yang untuk kesekian kalinya belum sempat menikmati sahur dengan masakan lezatmu, masakan yang engkau masak diatas tungku keikhlasan dan dibumbui kaldu kasih sayang.

Kalaulah diawal bulan suci ini ada seorang perempuan tua  yang meneteskan air matanya, aku yakin itu adalah ibu… ibu yang sedang merindukan anak laki-lakinya menikmati dengan lahap masakan ibunya dikala sahur menjelang. Dan… kalau diawal bulan suci ini ada seorang anak laki-laki remaja yang meneteskan air mata, itu adalah aku bu… aku yang rindu belaian hangat tanganmu, tangan yang setiap lipatan keriputnya menggambarkan kerasnya perjuangan.

Tapi, aku yakin bu… tetesan air matamu adalah do’a yang terus engkau kirimkan kepada yang Maha Kuasa untuk membasuh hatiku agar tidak kering…

Aku tahu, ibu tidak mungkin membaca tulisanku ini, tapi aku yakin bu… akan ada malaikat yang menyampaikannya untuk ibu, menyampaikan dari isi hati seorang anak kepada sanubari seorang ibu.

Aku tahu, ibu tidak tahu apa yang aku tulis, tapi aku yakin akan banyak ibu-ibu lainnya yang menjadi tahu bahwa akan selalu ada yang merindukan mereka dimanapun berada.

Aku tahu, ibu tidak memahami apa yang aku tulis, tapi aku yakin bahwa setiap ibu jauh lebih memahami dari apa yang dituliskan oleh anaknya.

Ya Allah, titip rindu buat ibu…

Untuk sahabat dan handai taulan…

Ketika  mendengar kejujuran dari lidahku, mungkin  Allah sedang menutupi kedustaanku

Ketika melihat kebaikan pada diriku, mungkin Allah sedang menutupi keburukanku

Ketika terkesan rajin pada perilakuku, mungkin Allah sedang menutupi kemalasanku

Ketika menganggap lebih pada kemampuanku, mungkin Allah sedang menutupi kebodohanku

Ketika mengira keikhlasan dihatiku, mungkin Allah sedang menutupi kedengkianku

Tak ada yang sempurna dari diriku sobat, salah masih dipundak kiriku dan khilaf masih dipundak kananku

Kuhaturkan untaian kata maaf atas segala salah dan khilaf

Maaf atas beribu perilaku yang tak layak untuk ditiru

Maaf atas keliru kata yang terhampar luas sejauh pandangan mata

Maaf atas tangan yang tak mampu berjabatan

Maaf atas hati yang pernah menyimpan ras iri dan dengki

Maaf atas salah dan dosa yang berderet sepanjangan bilangan usia

Marhaban Ya Ramadhan…