Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika tulisan ini mungkin dianggap menghambat proses percaraian bagi yang sedang menggugat dan digugat perceraian. Dan memang maksud dari tujuan saya menuliskan artikel ini jujur ingin menghambat (syukur-syukur bisa mengurungkan) niat bapak dan ibu****memutus hubungan sebagai suami dan istri.

Bapak dan ibu yang budiman, yang setiap kehadiran kalian adalah dambaan bagi putra dan putri kalian, yang setiap ketidakhadiran kalian adalah rindu yang mendalam bagi darah daging kalian. Perkenalkanlah, saya Rosid. Satu dari jutaan anak dimuka bumi ini yang menjadi korban perceraian orang tuanya. Satu dari jutaan anak yang setiap hari raya lebaran memendam rindu yang tidak akan pernah tersampaikan untuk bisa berkumpul  bersama, berfoto bersama dan terpampang didalam bingkai yang sama.

Saya ingin bertanya, ketika bapak-bapak dan ibu-ibu saling berseteru dalam ranah perceraian, apa yang terpikirkan didalam pikiran bapak – ibu ?. Rasa sakit hati kah ?, perebutan harta gono – gini kah ?, kebencian yang memuncak kah ?, atau putra dan putri bapak ibu kah ?. Jawaban yang pertama, kedua, dan ketiga saya rasa sangat mungkin, tapi untuk yang keempat jujur saya ragu ?. Kalau memang dalam gugat – menggugat perceraian terpikirkan tentang putra dan putrinya saya yakin bapak-bapak dan ibu-ibu akan berpikir lebih dari sepuluh kali untuk bercerai.

Tahukah pak… bu… tidak akan pernah ada sosok yang bisa menggantikan posisi bapak dan ibu bagi putra dan putri kalian. Ayah tirinya mungkin bisa mengambil peran sebagai ayah kandungnya, begitupun dengan ibu tirinya, tapi di suatu yang akan datang akan tersimpan sebuah rasa yang begitu menggumpal didalam hati anak-anak kalian. Rasa yang antara benci dan rindu, benci karena rasa kecewa terhadap orang tuanya yang tidak bisa memberikan peran selayaknya orang tua lain. Rindu karena tak kunjung mendapatkan kasih sayang yang sempurna dari sosok seorang ayah disisi kanan dan ibu disisi kiri.

Cobalah bapak ibu bayangkan ;

Saat kenaikan kelas, orang tua siswa yang lain hadir lengkap secara kompak. Kedua tangan setiap anak begitu mesra digandeng oleh kedua orang tuanya. Pak.. bu… itu adalah suatu pukulan sosial dan kasih sayang yang telak bagi seorang anak yang tidak mungkin kedua orang tuanya bisa hadir karena telah bercerai. Sanggupkah bapak dan ibu melihat putra atau putrinya seperti itu ?

Kalaupun seorang ayah atau ibu tiri bisa memberi peran selayaknya bapak dan ibu kandung, sanggupkah bapak dan ibu ketika melihat anak bapak dan ibu lebih manja terhadap ayah dan ibu tirinya ?. Relakah bapak dan ibu dianggap sebagai orang tua yang gagal ?. Anak-anak bapak dan ibu saja tidak rela kalau bapak dan ibunya dianggap sebagai orang tua yang gagal.

Hari ini, seorang anak mungkin belum menyadari dan memahami tentang apa yang terjadi dengan hubungan antara ayah dan ibunya. Tapi suatu saat dia akan sadar seiring dengan tumbuhnya cara berpikir, menilai, merasa, dan menemukan keganjilan dalam keluarganya.

Kelak mungkin jika anak-anakmu sudah dewasa akan bisa menerima kenyataan pahit akibat perceraian kalian. Tapi itu nanti… nanti setelah sekian panjang jalan yang harus ditempuh menuju dewasa. Setelah begitu banyak ari mata yang diteteskan. Setelah banyak rindu kasih sayang yang harus dipendam dan kadang sampai dibuang. Setelah banyak menghela nafas dan mengusap dada.

Sadarkah, kalau perceraian bapak dan ibu akan terus mengantui pikiran sang anak ?, ketia ia belajar, bermain, menyendiri, dan mau tidur.

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang semoga selalu dalam naungan keridhoan Allah SWT. Tulisan ini terlalu singkat untuk menggambarkan kondisi yang sebenarnya pasti jauh lebih memilukan. Kadang saya masih merasa beruntung meskipun orang tua saya bercerai, paling tidak setelah melewati proses yang panjang, saya bisa menerima kenyataan dengan mengambil kesimpulan :

“mungkin ayah dan ibu saya tidak bisa menjadi orang tua yang seperti diharapkan oleh anak-anaknya, tapi saya percaya bahwa ayah dan ibu saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Kalaupun ada perceraian, mungkin itulah yang disebut kecelakaan sejarah dan dalam kekhilafan. Karena itu adalah sebuah kecelakan dan kekhilafan, saya harap jangan ada yang melalui lintasan yang sama. Walaupun perceraian adalah sesuatu yang halal, tapi itu bukanlah sesuatu yang  Allah senangi”.

Wahai para ayah… wahai para ibu… tataplah wajah putra dan putrimu hingga kedalam relung-relung sanubarinya yang terdalam. Dibalik selaput matanya berlinang air mata yang tak akan sanggup mereka bendung ketika melihat kalian mengikrarkan satu perpisahan. Diselasar pipinya yang manis kelak akan dibasahi oleh air mata yang tidak bisa kalian usap. Tega kah bapak ibu ketika anak-anaknya rindu sebuah usapan tangan lembut oran tua terkasih dipipinya yang basah oleh air mata kerinduan namun harus mengusapnya sendiri ?.

Mohon maaf sobat-sobat, kalau tulisan saya kali ini mungkin agak curcol. Tapi jujur, ini murni atas keprihatin saya akan maraknya perceraian pasangan suami istri yang sudah mempunyai anak. Saya hanya berharap mudah-mudahan setiap orang tua yang mau bercerai membuang ego masing-masing, introspeksi diri, berpikir jernih, dan kembali untuk anak-anak mereka yang akan selalu butuh kehadiran mereka secara utuh.